Berhenti Mengejar 1.000 Kata per Hari, Mulailah Mengejar Naskah Selesai

 

Salah satu kalimat yang paling sering saya dengar dari penulis—baik pemula maupun yang sudah lama menulis—adalah ini:
“Saya sebenarnya sudah punya target 1.000 kata per hari, tapi tidak konsisten.”

Kalimat itu terdengar jujur, tetapi menyimpan masalah mendasar. Selama bertahun-tahun menjadi ghostwriter, penulis biografi dengan lebih dari 100 buku, sekaligus mentor menulis, saya justru menemukan satu pola yang berulang: penulis yang terlalu patuh pada target harian justru lebih sering gagal menyelesaikan naskah.

Masalahnya bukan pada angka 1.000 kata. Masalahnya pada cara berpikir.

Saya justru mendorong kebalikannya: tetapkan target selesai, bukan target harian yang fleksibel. Karena dunia nyata—terutama bagi penulis dewasa yang punya tanggung jawab hidup—tidak bergerak dengan ritme ideal.


Masalah Utama: Target Harian Terlihat Disiplin, Tapi Rapuh

Target harian seperti “500 kata per hari” atau “1.000 kata per hari” terlihat rapi dan terukur. Banyak kelas menulis juga mendorongnya. Di atas kertas, metode ini tampak disiplin.

Namun di lapangan, saya melihat tiga masalah besar.

Masalah 1: Hidup Tidak Pernah Konsisten

Penulis bukan hidup di ruang steril. Ada pekerjaan utama, keluarga, urusan mendadak, kelelahan fisik dan mental. Target harian mengasumsikan kondisi ideal setiap hari.

Begitu satu hari terlewat, yang muncul bukan evaluasi, tetapi rasa bersalah. Hari kedua terlewat, rasa bersalah berubah jadi frustrasi. Minggu berikutnya, target ditinggalkan diam-diam.

Bukan karena penulis malas, tetapi karena sistemnya tidak manusiawi.


Masalah 2: Fokus Berpindah dari Naskah ke Angka

Target harian membuat penulis sibuk menghitung kata, bukan memikirkan progres naskah. Akibatnya:

  • Menulis dipaksa panjang meski tidak perlu
  • Mengulur adegan agar memenuhi kuota
  • Menghindari hari menulis jika merasa “tidak sanggup” mencapai target

Ini ironi: niat awal ingin produktif, tetapi justru menjauh dari tujuan utama—naskah selesai.


Masalah 3: Gagal Sehari Dianggap Gagal Total

Target harian tidak memberi ruang kegagalan kecil. Padahal dalam proses kreatif, kegagalan kecil itu wajar.

Begitu target harian runtuh, banyak penulis menganggap dirinya tidak disiplin, tidak berbakat, atau “bukan penulis sungguhan”. Ini masalah psikologis serius yang sering saya temui pada penulis yang sebenarnya potensial.


Dampaknya: Naskah Jalan di Tempat Bertahun-Tahun

Akumulasi dari semua masalah ini sederhana tapi menyakitkan: banyak penulis menulis lama, tetapi tidak pernah menyelesaikan buku.

Saya sering bertemu penulis yang berkata, “Saya sudah menulis lima tahun.”
Saat saya tanya, “Berapa naskah yang selesai?”
Jawabannya sering, “Belum ada yang benar-benar selesai.”

Di dunia profesional, ini masalah besar. Tidak ada editor yang bisa bekerja tanpa naskah selesai. Tidak ada pembaca yang bisa membaca niat. Tidak ada reputasi yang dibangun dari draf setengah jalan.


Solusi Utama: Beralih ke Target Selesai Berbasis Waktu

Karena itu, saya selalu mendorong penulis—terutama yang ingin naik level—untuk mengubah pendekatan: dari target harian ke target selesai.

Target selesai berbasis waktu bekerja dengan logika yang berbeda.

Contoh:

  • Bab 1 selesai tanggal 15 Februari
  • Bab 3 selesai akhir Maret
  • Draf utuh selesai dalam 3 bulan

Target ini tidak menanyakan berapa kata hari ini, tetapi apakah proyek ini bergerak menuju selesai.


Mengapa Target Selesai Lebih Kuat?

1. Fokus Kembali ke Tujuan Akhir

Dengan target selesai, setiap sesi menulis punya satu pertanyaan utama:
Apa yang perlu saya lakukan hari ini agar proyek ini mendekati titik selesai?

Kadang jawabannya menulis banyak. Kadang sedikit. Kadang hanya merapikan struktur. Semuanya sah, selama naskah bergerak maju.


2. Tekanan Sehat, Bukan Tekanan Harian

Target waktu menciptakan tekanan sehat. Bukan tekanan harian yang melelahkan, tetapi tekanan deadline yang memaksa keputusan.

Ketika tenggat mendekat, penulis tidak lagi bertanya, “Mood saya ada atau tidak?”
Pertanyaannya berubah menjadi, “Saya menulis sekarang, atau menunda dan menanggung konsekuensinya?”

Di dunia profesional, inilah cara kerja sesungguhnya.


3. Memberi Ruang Hidup yang Nyata

Target selesai memahami bahwa ada hari produktif dan hari tidak ideal. Jika satu hari hilang, proyek belum gagal. Yang penting, tenggat akhir masih dikejar.

Ini membuat penulis lebih tahan lama, bukan cepat terbakar lalu padam.


Bagaimana Menerapkan Target Selesai Secara Praktis?

Solusi 1: Pecah Proyek Menjadi Unit Selesai

Jangan menulis “menyelesaikan buku”. Itu terlalu besar. Pecah menjadi unit yang bisa ditutup:

  • Bab 1 selesai
  • Outline final selesai
  • Draf kasar selesai
  • Draf revisi pertama selesai

Setiap “selesai” memberi rasa pencapaian yang nyata.


Solusi 2: Tetapkan Tanggal, Bukan Sekadar Bulan

“Target tahun ini” terlalu longgar. Gunakan tanggal meski terasa menakutkan.

Tanggal memaksa otak berhenti menunda. Ia menciptakan realitas.


Solusi 3: Siapkan Ruang untuk Revisi, Bukan Kesempurnaan

Target selesai bukan target sempurna. Banyak penulis gagal karena ingin rapi di tahap awal.

Sebagai ghostwriter, saya menulis dengan prinsip: selesai dulu, bagus belakangan. Revisi hanya mungkin jika naskah ada.


Solusi 4: Gunakan Tenggat sebagai Alat Evaluasi, Bukan Alat Menghukum

Jika tenggat meleset, evaluasi sistemnya:

  • Apakah target terlalu ambisius?
  • Apakah beban hidup sedang berat?
  • Apakah proyek terlalu besar?

Bukan menyimpulkan, “Saya tidak berbakat.”


Penutup: Di Dunia Profesional, Tenggat Adalah Teman

Banyak penulis memusuhi tenggat karena mengira ia membunuh kreativitas. Pengalaman saya justru sebaliknya. Tanpa tenggat, kreativitas sering kalah oleh hal-hal lain yang terlihat mendesak tapi sebenarnya tidak penting.

Di dunia profesional seperti penulis biografi atau jasa ghostwriter, tenggat bukan musuh. Ia adalah alat untuk melindungi karya agar tidak terus ditunda.

Jika kamu serius ingin menyelesaikan naskah buku atau menulis novel—bukan sekadar merasa sibuk menulis—maka berhentilah bertanya berapa kata hari ini. Mulailah bertanya: kapan naskah ini selesai?

Karena hanya penulis yang menyelesaikan yang benar-benar bisa melangkah ke tahap berikutnya.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *