“Ini Sebenarnya Sudah Naskah Buku. Tapi Masih Menyamar Jadi Slide.”
Kalimat ini cukup sering saya ucapkan. Setengah bercanda, setengah serius.
Biasanya saya mengatakannya sambil menatap layar:
slide demi slide, judul besar, poin-poin rapi, bullet list penuh pengalaman hidup, keputusan penting, kegagalan mahal, dan pengetahuan yang tidak datang dari buku teks.
Lalu pemilik materi itu bertanya, “Pak, ini masih jauh ya dari buku?”
Jawaban saya hampir selalu sama. “Bukan jauh. Justru terlalu dekat.”
Masalahnya bukan karena belum ada isi. Masalahnya karena isi itu belum diberi ruang untuk bernapas.
Presentasi Itu Kerangka. Buku Itu Pengalaman.
Presentasi dibuat untuk satu tujuan: dipahami cepat, dalam waktu singkat, oleh banyak orang sekaligus.
Buku populer bekerja dengan cara yang berbeda. Ia menemani satu orang, pelan-pelan, dari halaman ke halaman.
Di slide, Anda menulis:
3 Kesalahan Fatal dalam Karier
Di buku, pembaca ingin tahu:
- bagaimana kesalahan itu terjadi
- rasanya seperti apa saat Anda menyadarinya
- apa yang Anda lakukan setelahnya
- dan kenapa pengalaman itu relevan untuk hidup mereka
Slide adalah rangka. Buku adalah daging, napas, dan detak jantungnya.
“Tapi Saya Tidak Punya Waktu Menulis Buku.”
Ini kalimat kedua yang paling sering saya dengar. Dan jujur saja, saya percaya. Orang-orang yang punya bahan presentasi bernilai buku biasanya:
- sibuk
- memikul tanggung jawab besar
- hidupnya penuh keputusan strategis
Masalahnya bukan kemauan. Masalahnya energi kreatif sudah habis lebih dulu. Di sinilah peran ghostwriter sering disalahpahami.
Ghostwriter Bukan Penulis Pengganti.
Ia Penerjemah Pengalaman. Banyak orang ragu, “Kalau pakai ghostwriter, bukunya nanti jadi bukan saya.” Justru sebaliknya. Ghostwriter yang bekerja dengan benar tidak menambahkan suara.
Ia menghilangkan kebisingan. Ia bertanya:
- “Bagian ini sebenarnya Anda marah, kecewa, atau pasrah?”
- “Kalimat ini pertama kali Anda ucapkan ke siapa?”
- “Kalau ini Anda ceritakan ke teman dekat, bahasanya seperti apa?”
Ghostwriter bekerja seperti cermin. Bukan menciptakan topeng, tapi melucuti formalitas.
Dari Bullet Point ke Cerita yang Mengalir
Mari jujur. Bahan presentasi biasanya:
- terlalu rapi
- terlalu aman
- terlalu profesional
Padahal buku populer hidup dari:
- jeda
- pengakuan jujur
- kalimat yang terasa diucapkan, bukan disusun
Slide menuntut kerapian. Buku populer menuntut keintiman.
Dan keintiman tidak lahir dari poin-poin. Ia lahir dari cerita kecil yang dulu Anda anggap “tidak penting”.
“Tapi Ini Kan Cuma Materi Seminar …”
Tidak selalu. Kalau materinya hanya teori, mungkin iya. Namun, kalau di dalamnya ada:
- kegagalan
- keputusan salah
- konflik batin
- pertanyaan yang belum sepenuhnya terjawab
Itu bukan “cuma materi”. Itu bahan baku buku populer yang kuat. Sering kali, karena Anda terlalu menguasai materinya, Anda lupa betapa berharganya pengalaman itu bagi orang lain.
Buku Populer Tidak Dibangun dari Kepintaran,
Tapi dari Relevansi. Banyak calon penulis terjebak di sini. Mereka ingin:
- terdengar pintar
- terdengar berwibawa
- terdengar pantas jadi buku
Padahal pembaca buku populer bertanya hal yang lebih sederhana: “Apakah cerita ini bicara tentang saya juga?”
Di sinilah ghostwriter menjaga satu hal krusial:
suara manusiawinya tetap hidup.
Bukan suara panggung. Bukan suara seminar. Melainkan suara seseorang yang sedang duduk berhadapan dengan pembacanya.
Prosesnya Bukan Menulis Ulang, Tapi Menggali.
Mengubah slide menjadi buku bukan soal menyalin lalu memanjangkan.
Itu proses:
- memilah mana yang perlu diceritakan
- mana yang cukup disinggung
- mana yang sebaiknya dibuang
Kadang satu slide berkembang menjadi satu bab. Kadang sepuluh slide cukup menjadi satu halaman reflektif.
Dan sering kali, bagian paling kuat justru tidak pernah masuk slide, melainkan muncul saat Anda mulai bercerita dengan jujur.
Kapan Slide Siap Menjadi Buku?
Jawaban jujurnya:
Saat Anda siap berhenti tampil … dan mulai bercerita.
Saat Anda berani menurunkan topeng profesional, lalu berkata, “Ini saya, dengan seluruh prosesnya.”
Saya Anang YB, Ghostwriter Indonesia, dengan pengalaman 17 tahun membantu lahirnya naskah buku populer di berbagai tema: ekonomi, bisnis, politik, kisah hidup, kesehatan, dan topik-topik strategis lainnya.
Kalau Anda memiliki:
- bahan presentasi
- modul pelatihan
- materi seminar
- atau kumpulan slide yang sudah bertahun-tahun digunakan
dan diam-diam merasa, “Seharusnya ini bisa jadi buku…” Kemungkinan besar, Anda benar.
Jika Anda ingin mengubah bahan itu menjadi buku populer yang hidup, tanpa kehilangan suara, pengalaman, dan sudut pandang Anda sendiri, serta ingin ditemani ghostwriter yang bekerja bersama Anda, bukan menggantikan—kita bisa mulai dari satu percakapan.
Karena sering kali, buku tidak lahir dari niat besar. Ia lahir dari satu pengalaman jujur yang akhirnya diberi ruang untuk tumbuh.
Tinggalkan Balasan