Tahun 2026 sudah tiba. Seperti tahun-tahun sebelumnya, banyak penulis akan memulainya dengan resolusi yang terdengar heroik: ingin konsisten menulis, ingin menerbitkan buku, ingin dikenal sebagai penulis. Sayangnya, sebagian besar resolusi itu gugur bukan karena kurang bakat, melainkan karena salah fokus.
Saya menulis ini bukan sebagai motivator, melainkan sebagai orang yang sudah lebih dari 17 tahun hidup di dunia kepenulisan. Saya ghostwriter dan penulis biografi dengan pengalaman terlibat dalam lebih dari 100 bukuโmulai dari buku tokoh publik, profesional, pengusaha, hingga karya fiksi dan nonfiksi populer. Saya juga mendampingi ratusan penulis sebagai mentor dan mendirikan Akademi Penulis Buku.
Dari semua itu, saya menarik satu kesimpulan sederhana: penulis gagal bukan karena tidak bisa menulis, tetapi karena terlalu banyak memikirkan hal yang tidak perlu.
Jika kamu sungguh ingin menjadikan 2026 sebagai tahun yang produktif secara kreatif, ada beberapa fokus utama yang harus kamu pegang erat. Yang lainnyaโmeski terlihat pentingโsering kali hanya gangguan yang menyamar sebagai โprosesโ.
1. Fokus pada Produksi, Bukan Persepsi
Banyak penulis menghabiskan terlalu banyak waktu memikirkan bagaimana tulisannya akan dinilai. Apakah ini cukup bagus? Apakah orang akan suka? Apakah layak diterbitkan?
Pertanyaan-pertanyaan itu sah, tetapi bukan urusan tahap awal.
Di 2026, fokus utamamu seharusnya adalah memproduksi naskah. Titik. Tanpa naskah, tidak ada yang bisa dinilai, diperbaiki, atau diterbitkan. Saya sering menemui penulis yang sudah bertahun-tahun โmerencanakanโ buku, tetapi tidak pernah menyelesaikan satu draf utuh.
Sebagai ghostwriter, saya tidak punya kemewahan untuk menunggu mood atau validasi. Klien saya membayar untuk hasil, bukan niat. Dan justru dari situ saya belajar: kualitas lahir dari kuantitas yang dikerjakan dengan sadar, bukan dari kesempurnaan yang ditunda.
2. Fokus Menyelesaikan, Bukan Memulai Terus-Menerus
Memulai itu mudah. Menyelesaikan itu langka.
Di 2026, berhentilah bangga karena punya banyak ide. Ide tidak pernah langka. Yang langka adalah penulis yang mampu mengantar ide sampai ke halaman terakhir.
Satu naskah selesai jauh lebih berharga daripada lima naskah mangkrak. Fokuslah pada satu proyek utama. Tentukan: buku apa yang ingin kamu tuntaskan tahun ini? Bukan lima, bukan tigaโsatu saja, tapi selesai.
Dalam dunia profesional, reputasi penulis dibangun bukan dari potensi, melainkan dari rekam jejak. Buku yang rampung akan selalu membuka pintu berikutnya: penerbit, pembaca, kolaborasi, bahkan penghasilan.
3. Fokus pada Proses Menulis, Bukan Konten Tentang Menulis
Ini gangguan paling sering saya lihat hari ini.
Banyak orang sibuk membuat konten tentang menulisโtips, quotes, thread, reelโpadahal bukunya sendiri belum jalan. Ironisnya, terlihat produktif, padahal yang dikerjakan adalah representasi, bukan karya.
Saya tidak anti konten. Saya juga membangun brand dan Akademi Penulis Buku dari konten. Tetapi urutannya jelas: menulis dulu, membagikan kemudian. Bukan sebaliknya.
Jika waktumu terbatas, tanyakan ini setiap hari: hari ini aku menulis naskah, atau hanya membicarakan niat menulis?
4. Fokus pada Pembaca Nyata, Bukan Pasar Abstrak
Banyak penulis terjebak pada bayangan โpasarโ. Mereka menulis dengan asumsi yang kabur: katanya ini yang laku, tren sekarang begini, algoritma sukanya ini.
Padahal menulis yang kuat selalu berangkat dari pembaca konkret. Satu tipe pembaca yang jelas: siapa dia, masalah apa yang dia alami, dan kenapa tulisanmu relevan bagi hidupnya.
Dalam penulisan biografi, saya tidak pernah menulis untuk โsemua orangโ. Saya menulis untuk pembaca yang ingin belajar dari pengalaman hidup tokoh. Kejelasan itu membuat naskah fokus, jujur, dan bernyawa.
Di 2026, berhentilah mengejar semua orang. Fokuslah melayani satu pembaca dengan sungguh-sungguh.
5. Fokus Belajar yang Tepat, Bukan Mengumpulkan Ilmu
Belajar menulis itu penting. Tapi belajar tanpa praktik hanyalah hiburan intelektual.
Saya melihat banyak penulis rajin ikut kelas, webinar, workshopโtetapi tulisannya tidak bergerak. Ilmu menumpuk, naskah stagnan.
Fokuslah pada satu atau dua kompetensi utama yang benar-benar kamu butuhkan sekarang: struktur cerita, kedalaman karakter, atau disiplin menulis. Pelajari, terapkan langsung di naskahmu, evaluasi, ulangi.
Mentor bukan untuk membuatmu merasa pintar, tetapi untuk membantumu bergerak lebih cepat dan lebih tepat.
Penutup: 2026 Bukan Tentang Lebih Sibuk, Tapi Lebih Jelas
Jika saya boleh merangkum semuanya dalam satu kalimat: 2026 adalah tahun untuk menjadi penulis yang selesai, bukan penulis yang sibuk.
Sibuk membaca, sibuk belajar, sibuk mengamati, sibuk mengomentariโsemua itu tidak ada artinya tanpa karya yang benar-benar kamu selesaikan.
Fokuslah pada hal-hal yang langsung mendorongmu ke satu titik: naskah selesai. Yang tidak mengarah ke sana, meski terlihat penting, sering kali hanyalah gangguan yang mencuri waktumu secara halus.
Menulis adalah kerja sunyi. Tidak selalu terlihat. Tidak selalu dipuji. Tapi dari situlah buku lahir, reputasi dibangun, dan perjalanan penulis benar-benar dimulai.
Jika 2026 ingin kamu menangkan sebagai penulis, fokuslah. Yang lain bisa menunggu.
Tinggalkan Balasan