Naskah Selesai Itu Tujuan. Selebihnya Hanya Alasan yang Terlihat Produktif

Ada satu kalimat yang selalu saya ulang kepada para penulis yang saya dampingi:

“Fokuslah pada hal-hal yang langsung mendorongmu ke satu titik: naskah selesai. Kesibukan  yang tidak mengarah ke sana, meski terlihat penting, sering kali hanyalah gangguan yang mencuri waktumu secara halus.”

Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi dampaknya brutal. Karena jika kita jujur, banyak aktivitas penulis hari ini tidak benar-benar mengarah pada naskah yang rampung. Ia hanya memberi rasa sedang berproses tanpa kemajuan nyata.

Saya menulis ini sebagai ghostwriter dan penulis biografi yang sudah terlibat dalam lebih dari 100 buku. Saya hidup dari naskah yang selesai, bukan dari niat, bukan dari semangat, dan bukan dari kesibukan semu. Saya juga menjadi mentor menulis dan mendirikan Akademi Penulis Buku—dan dari sanalah saya melihat pola yang berulang, nyaris identik, pada banyak penulis yang mandek bertahun-tahun.

Masalahnya bukan malas. Masalahnya salah fokus.

Mari kita bedah dengan jujur.


5 Aktivitas yang Benar-Benar Mendorong Naskahmu Selesai

1. Menulis Draf Buruk Tanpa Izin Menilai

Aktivitas paling penting—dan paling sering dihindari—adalah menulis draf yang belum bagus.

Banyak penulis berhenti bukan karena tidak bisa menulis, tetapi karena ingin tulisannya langsung rapi, puitis, dan “layak dibaca”. Padahal, tidak ada naskah matang yang lahir tanpa fase buruk.

Sebagai ghostwriter, saya selalu menulis cepat di tahap awal. Fokusnya bukan indah, tapi ada. Draf buruk adalah bahan mentah. Tanpa itu, editor, mentor, bahkan dirimu sendiri tidak punya apa-apa untuk dikerjakan.

Jika suatu aktivitas tidak menghasilkan halaman baru—ia patut dicurigai.


2. Menentukan Target Selesai, Bukan Target Harian yang Fleksibel

Banyak penulis menetapkan target seperti “1.000 kata per hari” lalu menyerah ketika gagal konsisten. Saya justru mendorong kebalikannya: target selesai.

Misalnya:
– Bab 1 selesai tanggal sekian
– Draf utuh selesai dalam 3 bulan

Target waktu menciptakan tekanan sehat. Ia memaksamu mengambil keputusan: menulis atau menunda. Tanpa tenggat, menulis akan selalu kalah oleh hal-hal lain yang “terlihat mendesak”.

Di dunia profesional, tenggat adalah alat, bukan musuh.


3. Mengunci Proyek (Tidak Lompat ke Ide Baru)

Setiap penulis pasti punya lebih dari satu ide. Itu normal. Yang berbahaya adalah menuruti semuanya.

Aktivitas yang mendorong naskah selesai adalah mengunci diri pada satu proyek utama. Ide lain dicatat, bukan dikerjakan. Menyelesaikan satu buku akan melatih otot mental yang sama sekali berbeda dibanding memulai banyak tulisan.

Reputasi penulis tidak dibangun dari ide cemerlang, tetapi dari konsistensi menyelesaikan.


4. Meminta Review Naskah Secara Terarah

Ini penting: review bukan untuk validasi, tetapi untuk koreksi.

Meminta pembaca beta, editor, atau mentor membaca naskahmu adalah aktivitas produktif jika dilakukan di waktu yang tepat. Idealnya setelah satu bab atau satu draf utuh, bukan setiap dua halaman.

Sebagai mentor, saya sering melihat penulis stagnan karena salah paham: mereka ingin dipuji, bukan dibedah. Padahal kritik terarah justru mempercepat proses selesai karena kamu tahu apa yang harus diperbaiki, bukan menebak-nebak.


5. Mengikuti Mentoring yang Fokus pada Penyelesaian

Mentoring yang baik tidak membuatmu merasa pintar, tetapi membuatmu bergerak.

Dalam Akademi Penulis Buku, saya selalu menekankan satu hal: mentoring harus berujung pada progres naskah. Jika setelah berminggu-minggu belajar tulisanmu tidak bertambah atau tidak mendekati selesai, ada yang salah.

Mentor bukan tempat curhat ide, tetapi partner yang menarikmu kembali ke jalur ketika kamu mulai menyimpang.


5 Aktivitas yang Terlihat Penting, Tapi Diam-Diam Membelokkan Tujuan

Sekarang bagian yang tidak nyaman—tetapi perlu.

1. Ikut Antologi Berulang-Ulang

Antologi sering terasa produktif karena ada nama kita tercetak. Masalahnya, ia jarang mendekatkanmu pada buku utuh.

Jika tujuanmu menerbitkan buku sendiri, terlalu sering ikut antologi justru melatih kebiasaan menulis pendek dan berhenti cepat. Antologi seharusnya batu loncatan, bukan rumah permanen.


2. Ikut Lomba Menulis yang Tidak Relevan atau Tidak Bergengsi

Lomba memang memacu adrenalin. Tapi banyak lomba hanya memberi ilusi prestasi tanpa dampak jangka panjang.

Jika lomba itu tidak memperkuat portofolio, tidak memperluas jaringan, dan tidak mendukung proyek bukumu—ia hanyalah pengalihan fokus yang melelahkan secara mental.


3. Terlalu Sibuk Mengikuti Kelas Tanpa Naskah Aktif

Belajar itu penting, tetapi belajar tanpa naskah yang sedang dikerjakan adalah penundaan yang sopan.

Saya sering melihat penulis berpindah dari satu kelas ke kelas lain, berharap “siap” dulu baru menulis. Padahal kesiapan hanya datang ketika tangan sudah kotor oleh draf.


4. Terlalu Banyak Riset di Awal

Riset itu perlu. Tetapi riset tanpa batas sering menjadi alasan paling elegan untuk tidak menulis.

Jika kamu terus membaca, mencatat, dan menonton, tetapi tidak menulis satu paragraf pun—itu bukan persiapan, itu pelarian.


5. Sibuk Personal Branding Padahal Karyanya Belum Ada

Ini fenomena serius hari ini. Banyak penulis terlihat aktif, dikenal, bahkan dianggap “pakar”, tetapi bukunya belum selesai satu pun.

Personal branding tanpa karya ibarat etalase tanpa isi. Cepat atau lambat, kosongnya akan terlihat.


Penutup: Kejujuran Paling Penting bagi Penulis

Pertanyaan terpenting yang perlu kamu ajukan di 2026 bukanlah:
“Apakah ini bergengsi?”
melainkan:
“Apakah ini mendekatkanku pada naskah selesai?”

Jika jawabannya tidak, sejujur apa pun ia terlihat produktif, kemungkinan besar itu hanyalah gangguan yang mencuri waktumu secara halus.

Menulis adalah tentang keberanian memilih. Dan penulis yang matang tahu: tidak semua kesempatan perlu diambil. Beberapa justru perlu ditolak agar satu hal yang paling penting bisa benar-benar selesai.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *