Penulis: Anang YB Mentor Menulis
-
Mengapa Ceritamu Layak Ditulis (Bahkan Saat Kamu Merasa Belum “Pantas”)
Kamu sudah menatap layar laptop yang kosong itu selama hampir satu jam. Kursor hitam kecil di sudut kiri atas terus berkedip, seolah-olah sedang mengejekmu. Di kepalamu, sebuah draf cerita fantasi epik atau romansa yang hangat sudah tersusun rapi. Namun, setiap kali jemarimu bersiap di atas kibor, sebuah suara skeptis di dalam kepala mendadak berteriak: “Memangnya…
-
Mengedit Naskah Buku Biografi: Ketika Pena Bertemu Lembaran Rindu
Sebagai seorang mentor menulis biografi, saya sering kali membagikan tips teknis tentang cara membedah kebuntuan narasumber atau menyusun struktur buku yang presisi. Namun, ada satu momen yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan teori kepenulisan biasa. Momen itu adalah ketika tulisan yang mendarat di meja kita bukan sekadar draf, melainkan lembaran rindu yang ditulis langsung dari…
-
Cara Menentukan Vibe Buku Biografi Lewat Satu Sifat Menonjol Tokoh
Suatu hari, seorang mentee datang kepada saya dengan mata berbinar sekaligus penuh keraguan. Ia membawa sebuah pertanyaan yang ia ajukan kepada ibunya: “Bunda, apa kata sifat yang paling mewakili almarhum Ayah? Aku lagi nulis buku tentang beliau.” Mendengar pertanyaan itu, saya langsung tersenyum lebar. Saya katakan kepadanya, “Kamu baru saja membuka pintu gerbang terbaik untuk…
-
Sinopsis dan Premis Bukan Tempat untuk Bermain Teka-Teki
Bayangkan Anda sedang memesan taksi online. Ketika sopir bertanya, “Mau diantar ke mana, Pak/Bu?”, Anda justru menjawab dengan nada misterius: “Ikuti saja ke mana embusan angin membawa kita, nanti di tengah jalan akan ada kejutan yang tak terduga.” Sopir tersebut kemungkinan besar akan membatalkan pesanan Anda saat itu juga. Di dunia nyata, kita butuh kepastian…
-
Seni Menguasai Panggung Peluncuran Buku dan Talkshow Online
Di belakang panggung sebuah acara peluncuran buku besar, atau tiga menit sebelum Anda menekan tombol “Join Meeting” di webinar berskala nasional, ada satu musuh tak terlihat yang hampir pasti datang mengetuk pintu kesadaran Anda. Pahlawan kesiangan itu bernama gugup. Jantung Anda mulai berdegup kencang bak genderang perang, telapak tangan dingin berminyak, dan tiba-tiba saja semua…
-
Menulis “Buku Kenangan” Sebagai Tribute
Sebagai seorang mentor menulis, ada satu pertanyaan dari mentee yang selalu berhasil menyentuh sisi paling personal dalam diri saya. Pertanyaan itu sederhana, namun sarat akan beban emosional: “Mas Mentor, aku ingin menulis kisah hidup Ibu. Tapi… bisakah aku hanya menulis kisah-kisah yang baik saja?” Mendengar pertanyaan itu, saya tersenyum. Ada keraguan di nada bicaranya—seolah-olah menulis…
-
Seni Mengulik Cerita Narasumber Biografi
Sebagai seorang mentor menulis, ada satu keluhan klasik dari para penulis biografi pemula yang paling sering mendarat di ruang obrolan saya. Bunyinya kurang lebih seperti ini: “Mas Mentor, aku bingung. Narasumber biografiku merasa enggak ada yang menarik dalam hidupnya untuk ditulis. Katanya hidupnya mengalir biasa aja, nggak punya titik balik yang dramatis. Padahal, menurutku setiap…
-
Panduan Menulis Memoar Orang Tua Bersama Saudara Kandung
Sebagai seorang penulis biografi, pekerjaan sehari-hari saya adalah menyelami labirin ingatan orang lain. Saya menyusun serpihan memori yang berserakan, lalu menjahitnya menjadi sebuah narasi yang utuh. Namun, proyek paling menantang sekaligus paling emosional yang pernah saya hadapi justru datang dari sahabat-sahabat yang punya rencana seperti ini: “Puluhan tahun Ayah-Ibu bareng, masa nggak kita abadikan? Yuk,…
-
Berhenti Mengejar 1.000 Kata per Hari, Mulailah Mengejar Naskah Selesai
Salah satu kalimat yang paling sering saya dengar dari penulis—baik pemula maupun yang sudah lama menulis—adalah ini: “Saya sebenarnya sudah punya target 1.000 kata per hari, tapi tidak konsisten.” Kalimat itu terdengar jujur, tetapi menyimpan masalah mendasar. Selama bertahun-tahun menjadi ghostwriter, penulis biografi dengan lebih dari 100 buku, sekaligus mentor menulis, saya justru menemukan…
-
Naskah Selesai Itu Tujuan. Selebihnya Hanya Alasan yang Terlihat Produktif
Ada satu kalimat yang selalu saya ulang kepada para penulis yang saya dampingi: “Fokuslah pada hal-hal yang langsung mendorongmu ke satu titik: naskah selesai. Kesibukan yang tidak mengarah ke sana, meski terlihat penting, sering kali hanyalah gangguan yang mencuri waktumu secara halus.” Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi dampaknya brutal. Karena jika kita jujur, banyak aktivitas…