Sebagai seorang mentor menulis, ada satu keluhan klasik dari para penulis biografi pemula yang paling sering mendarat di ruang obrolan saya. Bunyinya kurang lebih seperti ini:
“Mas Mentor, aku bingung. Narasumber biografiku merasa enggak ada yang menarik dalam hidupnya untuk ditulis. Katanya hidupnya mengalir biasa aja, nggak punya titik balik yang dramatis. Padahal, menurutku setiap orang pasti punya cerita. Gimana ya cara mengulik biar dapet ‘mutiara’ itu?”
Ini adalah tantangan yang jamak melanda proyek penulisan biografi atau memoar keluarga. Saat seseorang diminta menceritakan hidupnya sendiri, mereka cenderung mengalami blind spot. Mereka terlalu dekat dengan kesehariannya, sampai-sampai tidak bisa melihat kilau dari pengalaman yang mereka jalani sendiri.
Jika kamu sedang berada di posisi penulis kisah hidup tersebut, berikut adalah cara saya membedah kebuntuan ini agar kamu bisa menemukan “mutiara” tersembunyi milik narasumbermu.
1. Validasi Pandanganmu: Kamu Sudah Melihat Mutiara Itu
Ketika saya menghadapi mentee dengan keluhan di atas, pertanyaan pertama yang saya lemparkan adalah pertanyaan fundamental:
“Apa sih alasan awal kamu mau menulis tentang beliau?”
Jawabannya sangat menyentuh. Penulis biografi ini ternyata ingin mengabadikan perjuangan hidup sang narasumber dari masa kecil hingga tua, agar kelak generasi berikutnya tahu bagaimana kehidupan leluhur mereka.
Nah, di sinilah kuncinya. Jawaban tersebut adalah bukti nyata bahwa sebagai penulis, kamu sebenarnya sudah melihat mutiara itu . Mutiara itu sudah memikatmu. Tugasmu sekarang bukan lagi mencari hal baru yang super megah, melainkan membantu narasumber melihat apa yang sudah kamu lihat.
2. Jangan Mengincar “Titik Balik”, Cari “Butiran Kisah”
Kesalahan terbesar penulis saat mewawancarai narasumber adalah langsung menembak dengan pertanyaan berat seperti: “Apa titik balik terbesar dalam hidup Bapak?” Bagi orang yang merasa hidupnya lempeng-lempeng saja, pertanyaan ini intimidatif. Mereka akan berpikir bahwa titik balik harus berupa kejadian luar biasa seperti bangkrut lalu kaya raya, atau selamat dari bencana besar.
Alih-alih mencari satu bongkahan batu mulia yang besar, ubah strategimu dengan mengumpulkan butiran-butiran kisah kecil. Gali spektrum rasa dari perjalanan hidup mereka:
-
Kisah yang seru dan penuh tawa.
-
Momen yang manis, asem, bahkan yang membawa haru.
-
Tantangan-tantangan harian yang bagi mereka biasa, tapi sebenarnya menantang jika dilihat dari kacamata generasi sekarang.
3. Bedah Berdasarkan Peran dan Emosi
Manusia tidak hidup dalam satu dimensi. Cara terbaik untuk memancing cerita adalah dengan membedah memori narasumber berdasarkan sekian banyak peran yang pernah atau sedang mereka jalani selama hidup.
Coba korek perasaan-perasaan spesifik yang pernah singgah di tiap peran tersebut:
| Peran Narasumber | Fokus Emosi yang Digali |
| Sebagai Anak |
Perasaan saat merasa terabaikan atau justru paling disayang di masa kecil. |
| Sebagai Pasangan / Orang Tua |
Perasaan bangga saat anak pertama lahir, atau rasa tersanjung oleh tindakan kecil pasangan. |
| Sebagai Pekerja / Anggota Masyarakat |
Momen paling melelahkan, saat-saat ingin menyerah, hingga kepuasan saat berhasil melewati masa sulit. |
Tugasmu sebagai penulis adalah melempar umpan pertanyaan yang memicu emosi-emosi ini. Biarkan mereka mengalir bercerita tentang detail-detail kecil tersebut.
4. Biarkan Mereka Bercerita, Kamu yang Menemukan Polanya
Ada sebuah kesimpulan menarik dari mentee saya setelah kami berdiskusi:
“Yup. Ok. Berarti membuat beliau cerita tentang kisah seru dll itu sehingga nantinya bisa kutemukan sendiri titik balik itu ya?”
Tepat sekali! Ini adalah aturan emas dalam menulis biografi. Tugas narasumber hanyalah bercerita dengan jujur tanpa perlu memikirkan struktur buku. Tugas kamulah sebagai penulis yang bertindak sebagai kurator.
Saat kamu berhasil mengumpulkan potongan kisah manis, asem, haru, dan menantang tadi, kamu akan mulai melihat sebuah pola. Dari tumpukan cerita yang dianggap narasumber “biasa saja” itu, benang merahnya akan kelihatan. Kamu akan menemukan sendiri di mana letak ketangguhan mereka, di mana nilai perjuangan leluhur itu berada, dan di mana sebenarnya titik balik emosional yang selama ini tidak mereka sadari.
Catatan untuk Para Penulis
Tidak ada hidup yang benar-benar datar. Yang ada hanyalah hidup yang belum dieksplorasi dengan pertanyaan yang tepat.
Sebagai penulis, kamu adalah seorang penyelam. Narasumbermu mungkin hanya melihat hamparan air laut yang biasa, tetapi dengan kepekaan dan pertanyaan yang tajam, kamu bisa membawa pulang mutiara dari dasar lautnya.
Selamat mengulik cerita, dan mari kita abadikan kisah para leluhur kita!
Tinggalkan Balasan