Menulis Cerita Anak Ketika Kamu Biasa Menulis Cerita Dewasa

 

(Catatan jujur dari mentor menulis yang sering membaca naskah “nyaris jadi”)

Banyak penulis datang kepada saya dengan kalimat pembuka yang hampir selalu sama:

“Saya sudah lama menulis novel dewasa, sekarang ingin coba menulis cerita anak.”

Kalimat itu terdengar wajar. Bahkan terasa menyenangkan.
Karena di baliknya ada niat baik: ingin menjangkau pembaca baru, ingin bercerita dengan cara yang lebih ringan, atau ingin ikut sayembara menulis cerita anak dan remaja.

Masalahnya baru muncul setelah naskahnya dibaca.

Bukan karena tulisannya jelek.
Bukan karena idenya lemah.
Justru sebaliknya—kebanyakan rapi, matang, penuh pesan, dan sangat “niat”.

Namun di situ pula letak persoalannya.

Cerita anak yang ditulis oleh penulis dewasa sering kali terlalu sadar diri. Terlalu rapi. Terlalu tahu arah. Terlalu ingin benar.
Padahal dunia anak dan remaja justru penuh dengan kebingungan, keputusan setengah matang, emosi yang belum diberi nama, dan dialog yang sering kali… tanggung.

Halo, saya Anang YB, mentor menulis.

Dalam beberapa waktu terakhir, saya membaca dan mereview lebih dari dua puluh kerangka dan contoh bab novel anak dan remaja. Banyak di antaranya ditulis oleh penulis yang sudah terbiasa menulis untuk pembaca dewasa.

Dari situlah saya melihat pola.
Bukan kesalahan fatal.
Tapi kurang sempurna yang berulang.

Artikel ini saya tulis bukan untuk menghakimi.
Ini semacam “peta jalan” agar kamu yang sedang belajar menulis novel anak, menulis cerita anak, atau menyiapkan naskah untuk sayembara menulis, tidak terjebak di lubang yang sama.

Mari kita bahas satu per satu.

1. Cerita Anak Dipikirkan, Bukan Dialami

Kesalahan paling umum:
cerita anak ditulis seperti novel dewasa yang diperkecil.

Tokohnya masih anak.
Masalahnya masih sekolah.
Tapi cara berpikirnya… sudah seperti orang 30 tahun yang reflektif.

Anak tidak merenung panjang tentang makna hidup.
Mereka kesal, lalu diam.
Mereka salah ambil keputusan, lalu menyesal belakangan.
Mereka bertindak dulu, baru mikir.

Kalau ceritamu terlalu banyak “menjelaskan perasaan”, besar kemungkinan itu suara penulis dewasa, bukan suara tokohnya.

2. Terlalu Banyak Narasi, Terlalu Sedikit Kejadian

Banyak naskah yang aman secara struktur, tapi miskin pengalaman.

Halaman demi halaman berisi:

  • pikiran tokoh
  • penjelasan latar
  • maksud penulis

Sementara kejadian nyatanya sedikit.

Padahal pembaca anak dan remaja butuh sesuatu terjadi.
Ada yang salah.
Ada yang gagal.
Ada yang bikin malu.
Ada yang bikin menyesal.

Cerita anak bergerak lewat peristiwa, bukan renungan.

3. Dialog Terlalu Rapi (dan Terlalu Sopan)

Ini klasik.

Dialog anak-anak yang:

  • selalu jelas
  • selalu relevan
  • tidak pernah salah paham

Padahal di dunia nyata, dialog remaja itu:

  • sering nyelonong
  • sering setengah kalimat
  • sering tidak menjawab pertanyaan

Dialog yang “tanggung” justru terasa hidup.
Ada jeda. Ada salah tafsir. Ada respon yang tidak sinkron.

Kalau dialogmu terlalu bersih, besar kemungkinan tokohnya belum bernapas.

4. Tokoh Terlalu Cepat Bijak

Baru konflik kecil, tokohnya langsung sadar diri.
Baru ditegur, langsung berubah.
Baru gagal, langsung mengambil pelajaran hidup.

Ini refleks orang dewasa.

Anak dan remaja belajar lewat pengulangan kesalahan.
Mereka bisa salah lagi.
Bisa keras kepala.
Bisa ngotot walau sudah tahu risikonya.

Tokoh yang sesekali membuat keputusan buruk justru terasa manusiawi.

5. Pacing Lambat di Tempat yang Salah

Ini penting tapi sering diabaikan.

Banyak naskah:

  • lambat di bagian aman
  • cepat di bagian krusial

Adegan pembuka yang seharusnya menggugah malah panjang dan datar.
Sementara konflik besar dilewati dengan cepat.

Pacing cerita anak harus mengikuti emosi tokohnya, bukan kenyamanan penulisnya.

Kalau tokoh panik, cerita harus ikut cepat.
Kalau tokoh bingung, boleh melambat—sebentar saja.

6. Terlalu Takut Salah Kalimat

Banyak penulis dewasa sangat berhati-hati:

  • takut salah ejaan
  • takut kalimat tidak efektif
  • takut dinilai “kurang sastra”

Akibatnya, spontanitas mati.

Padahal suara anak justru muncul dari kalimat yang kadang:

  • tidak simetris
  • pendek-pendek
  • emosional

Menulis cerita anak bukan lomba kerapian bahasa.
Ini soal kejujuran suara.

7. Setting Hadir, Tapi Tidak Menekan

Setting sering ada hanya sebagai latar visual.

Padahal setting yang baik:

  • membatasi pilihan tokoh
  • memaksa keputusan
  • menciptakan konflik

Sekolah, rumah, kampung, atau ruang bermain harus ikut “bermain” dalam cerita, bukan sekadar jadi wallpaper.

8. Pesan Terlalu Diutamakan Melebihi Cerita

Ini niat baik yang sering kebablasan.

Pesan moral, nilai kehidupan, atau tema sosial terlalu cepat muncul ke permukaan.
Tokohnya belum mengalaminya, tapi pembaca sudah diajari.

Cerita anak yang kuat tidak menggurui.
Ia menemani.

Pesan akan sampai kalau pengalaman tokohnya terasa nyata.

Jadi, Harus Mulai dari Mana?

Jawaban jujurnya:
bukan dari memperbaiki bahasa, tapi dari mengganti sudut pandang.

Tanya pada diri sendiri:

  • Apakah ini cara anak berpikir, atau cara saya menjelaskan?
  • Apakah tokoh diberi ruang untuk salah?
  • Apakah dialog terdengar seperti percakapan, bukan naskah pidato?

Menulis novel anak itu bukan soal merendahkan kompleksitas, tapi menghormati cara anak mengalami dunia.

Penutup

Kalau kamu sedang:

  • menulis novel anak
  • menulis cerita remaja
  • menyiapkan naskah untuk sayembara menulis
  • atau sedang transisi dari penulis dewasa ke penulis anak

dan merasa naskahmu “sudah rapi tapi belum hidup”—

Itu pertanda baik. Artinya kamu sudah dekat.

Kalau kamu butuh review jujur, tajam, tapi tetap menguatkan,
silakan hubungi saya.

Kadang, satu sudut pandang yang diluruskan bisa menyelamatkan seluruh cerita.


Comments

5 tanggapan untuk “Menulis Cerita Anak Ketika Kamu Biasa Menulis Cerita Dewasa”

  1. Avatar Christiani Suryani
    Christiani Suryani

    Iya betul 👍. Beruntung dapat review jujur, tajam, tapi sangat menguatkan. Terima kasih, Mas Mentor atas ilmu dan review-nya di kelas Menulis Cerita Anak Berbab 🙏

  2. Halo Mbak Yayan … Semoga naskah novel anaknya dapat jadi prioritas untuk diselesaikan ya. Punya satu stock untuk lomba.

  3. Iya, emang harus memposisikan diri sebagai anak.. dunia anak zaman now juauh berbeda.. syulit n syusyah nulis cerita anak.. tapi usaha kan boleh 😂

  4. Iya, emang harus memposisikan diri sebagai anak.. dunia anak zaman now juauh berbeda.. syulit n syusyah nulis cerita anak..

    1. Susah-susah menantang ya Bu Atun.

Tinggalkan Balasan ke Christiani Suryani Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *